Sholat Khusyuk!, Mengapa Syetan masih bisa menggoda?

“Bagaimana mungkin orang shalat digoda setan, sehingga tidak bisa khusyu‘? Bukankah saat shalat kita membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa? Apa setan tidak kepanasan (terbakar) saat kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an di dalam shalat?” Itulah daftar pertanyaan pada diri penulis ketika duduk di bangku sekolah menengah atas.

Tentang godaan setan ketika akan shalat, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّـيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قُضِيَ النِّدَاءُ أَقْبَلَ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِاالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتَّى إِذَا قُضِيَ التَّثْوِيْبُ أَقْبَلَ، حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا، لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِيْ كَمْ صَلَّى

“Ketika adzan dikumandangkan, setan lari terbirit-birit sambil buang angin sehingga dia tidak mendengar suara adzan. Ketika adzan telah selesai diperdengarkan, ia muncul lagi. Pada saat iqamah diperdengarkan, ia kembali lari terbirit-birit. Setelah iqamah selesai, ia muncul lagi dan membisikkan sesuatu ke dalam hati manusia (untuk mencegah manusia khusyu‘ dalam shalatnya) dan membuatnya teringat segala sesuatu apa yang tidak ia ingat ketika belum mengerjakan shalat dan menyebabkan ia lupa berapa banyak (rakaat) shalatnya.” (HR Bukhari)

Umumnya jawaban pertanyaan-pertanyaan yang penulis ajukan di atas adalah, “Orang shalat bisa digoda setan karena setan yang menggoda lebih hebat ilmunya. Kalau kita ustadz, maka setan yang menggoda juga level ustadz. Kalau Kyai, ya setan Kyai, Profesor ya digoda setan Profesor, begitu juga dengan yang lain.”

“Tapi kan, kita membaca dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an. Berarti kalau kita membaca ta‘awwudz, mu‘awwidzatayn (al-falaq dan an-nâs) atau ayat kursi, tetap bisa digoda setan dong. Logikanya bagaimana?” tanya penulis lebih lanjut.

Dengan terus menuntut ilmu, penulis mengetahui bahwa al-Ghazali telah membahas pertanyaan penulis di atas. Syaikh Sa‘id Hawwa dalam bukunya “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa – Intisari Ihya ‘Ulumuddin” menjelaskan dengan gamblang jawaban pertanyaan tersebut, baik dari segi ilmu maupun akal. Ihya ‘Ulumuddin adalah kitab karya seorang ulama besar, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali.

Sesungguhya setan memiliki andil dalam memengaruhi jiwa kecuali orang-orang yang dilindungi Allah dan ia datang ke dalam jiwa melalui celah-celah insting (watak serta tabiat), dan syahwat indrawi serta maknawi manusia. Ia sangat mengetahui titik-titik kelemahan manusia.

Hati ibarat benteng dan setan adalah musuh yang ingin memasuki dan menguasainya. Manusia tidak dapat melindungi benteng dari serangan musuh kecuali dengan menjaga benteng, pintu-pintu masuk serta celah-celahnya. Orang yang tidak mengetahui pintu-pintunya, tidak mungkin dapat menjaganya. Oleh karena itu, mengetahui pintu-pintu masuk setan ke dalam jiwa manusia adalah sarana membentengi jiwa dan menyucikannya.

Mengusir setan tidak dapat dilakukan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuknya. Pintu-pintu masuk setan adalah sifat-sifat seorang hamba yang banyak jumlahnya. Adapun pintu-pintu besar yang menjadi jalan utama yang tidak pernah sempit karena banyaknya tentara setan adalah:

1. Marah dan syahwat

2. Dengki dan tamak

3. Banyak makan

4. Suka berhias dengan pakaian, perabotan dan rumah

5. Tamak terhadap manusia (menjilat)

6. Tergesa-gesa dan tidak berhati-hati dalam berbagai perkara

الْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ وَالتَّأَنِّيْ مِنَ اللهِ

Tergesa-gesa adalah dari setan, dan berhati-hati adalah dari Allah. (HR Tirmidzi) 7. (Terlalu) cinta pada harta 8. Pelit dan takut miskin Seorang teman bertanya, “Apa batasan sehingga seseorang dikatakan pelit? Bagaimana bila orang itu sebenarnya berhemat? Apa pula batasan dermawan? Bila seseorang senang menyumbang dalam jumlah banyak, hal itu baik atau boros?”

Al-Ghazali menjelaskan bahwa kewajiban dibagi menjadi dua. Pertama, wajib bisy-syar‘i, yaitu kewajiban yang ditetapkan syariat, misalnya membayar zakat, berkurban dan lain-lain. Kedua, wajib bil-murû‘ah wal-‘âdat, yaitu kewajiban menurut kebiasaan masyarakat, seperti membayar iuran atau memberikan sedekah yang pantas.

Orang yang tidak menunaikan salah satu dari dua kewajiban tersebut dikategorikan pelit. Tentunya, yang tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan syariat dikategorikan lebih pelit.

Tentang sesuatu yang menurut kebiasaan, misalnya belanja, sedekah, menjamu tamu atau yang lain, bagaimana batasan antara hemat, pelit, dermawan dan boros?

Para ulama menjelaskan, “Jika hawa nafsu cenderung padanya (menyukainya), maka tinggalkanlah.”

Jika kita bersedekah dengan jumlah yang cukup banyak sehingga kita merasa bahwa diri kita dermawan, apalagi bila mengharapkan ucapan terima kasih atau pujian, hal ini disebut boros. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ahli ibadah, “Apakah kalian mengira bahwa kedermawanan hanya terletak pada dirham dan dinar?”

Apabila kita berbelanja melebihi kebutuhan sehingga nafsu condong pada keinginan tersebut, hal ini digolongkan perbuatan boros. Tatkala kita menghemat pengeluaran, misalnya mengurangi uang jajan untuk anak, mengurangi membeli lauk—sampai batas dimana hawa nafsu kita cenderung padanya—maka sifat ini dikategorikan pelit.

Jika seseorang berkewajiban membayar zakat Rp 1.000.000,- tapi ia membayar Rp 2.000.000,- dengan tujuan bahwa kelebihannya untuk sedekah, sedangkan ia tidak mempunyai perasaan bahwa dirinya orang yang senang beramal, maka orang ini dikatakan dermawan (jawâd).

Dengan demikian, semuanya tergantung pribadi masing-masing, tidak bisa disama-ratakan.

Thalhah bin Abdillah ra. berkata, “Sesungguhnya kami juga sayang kepada harta yang kami miliki seperti sayangnya orang-orang pelit, akan tetapi kami berusaha sabar untuk memberikan harta itu kepada orang lain.”

Abdullah bin Amr ra. berkata, “Asy-Syuhha (kikir) lebih parah dibandingkan bakhil (pelit). Syuhha adalah selain kikir atas hartanya, juga kikir atas harta orang lain, yaitu ia tidak mau orang lain menikmati harta itu dan berkeinginan agar harta itu diberikan kepadanya. Bakhil adalah pelit atas hartanya sendiri.”

خَصْلَتَانِ لاَتَجْتَمِعَانِ فىِ مُؤْمِنٍ: اَلْبُخْلُ وَسُوْءُ الْخُلُقِ

Dua perkara yang tidak dimiliki oleh seorang mukmin, yaitu pelit dan perangai buruk. (HR Tirmidzi)

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّهُ دَعَا مَنْ كَانَ قَبْلَـكُمْ فَسَفَكُوْا دِمَاءَهُمْ وَدَعَاهُمْ فَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ وَدَعَاهُمْ فَقَطَعُوْا أَرْحَامَهُمْ

Jauhilah sifat kikir, karena sifat ini telah mengajak umat-umat sebelum kamu sehinggga mereka saling menumpahkan darah, menodai kehormatan dan memutuskan silaturrahim. (HR Hakim)

9. (Terlalu) fanatik terhadap madzhab dan golongan

10. Mengajak orang awam untuk memikirkan Dzat Allah

11. Berprasangka buruk terhadap kaum muslimin

Allah SWT berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS al-Hujurât [49]: 12)

Itulah pintu-pintu besar setan yang harus kita jaga agar jangan tergelincir ke dalam rayuannya. Jika kita bertanya, “Bagaimana cara mengusir setan, apakah cukup dengan dzikrullâh (mengingat Allah) dan mengucapkan hawla walâ qûwata illâ billâh?”

Terapi hati dalam masalah ini adalah menutup pintu-pintu itu dengan cara membersihkan hati dari semua sifat yang tercela. Memang benar, setan masih memiliki berbagai lintasan di dalam hati, walaupun kita telah mencabut akar sifat-sifat tercela itu. Akan tetapi, ia tidak bisa menetap di dalamnya.

Daftar Pustaka:

    • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Sources From : Ust. Achmad Faisol

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s